Jauh sebelum aksara dan mesin cetak dikenal luas, masyarakat Melayu telah memiliki peradaban literasi yang amat luhur melalui tradisi lisan. Mari kita selami kekayaan ragam sastra tutur Melayu Riau yang sarat akan nasihat dan keindahan bahasa melalui tayangan berikut ini.
[ AREA PENYEMATAN VIDEO ]
Warisan Bertutur Penjaga Marwah dan Budi Pekerti
Sastra lisan adalah akar identitas dan wadah penyampaian tunjuk ajar dalam kebudayaan Melayu Riau. Sejak zaman dahulu hingga hari ini, warisan bertutur ini terus dihidupkan sebagai medium hiburan yang merajut silaturahmi sekaligus menjadi tiang pendidikan moral. Berdasarkan klasifikasinya, ragam sastra lisan Melayu asli ini secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni sastra naratif (prosa) dan sastra non-naratif (puisi).
1. Sastra Naratif (Prosa)
Genre prosa lisan merupakan cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut dengan alur kisah yang memikat. Di dalamnya terkandung nilai kepahlawanan, asal-usul suatu daerah, hingga cerita kiasan sebagai teladan. Bentuk prosa lisan yang sangat akrab di masyarakat antara lain mitos, legenda, dongeng, dan cerita hewan (fabel). Di samping itu, terdapat pula tradisi seni bertutur khas yang menyatu dengan kebiasaan masyarakat, seperti koba, dundung, ratif, nandong, beghandu, serta kayat yang menceritakan kisah para nabi. Pada majelis tertentu, kisah ini juga dilantunkan melalui nyanyian panjang atau gambus betandang.
2. Sastra Non-Naratif (Puisi)
Sastra lisan berirama merupakan bentuk ekspresi yang sangat terikat pada rima, ketukan, serta keindahan susunan kata. Karya yang paling masyhur tentu saja pantun, yang telah menjadi denyut nadi komunikasi orang Melayu. Bentuk keindahan lainnya mencakup mantra, talibun, karmina, bidal, seloka, hingga teka-teki. Sastra jenis ini juga menjadi ruang untuk merawat hukum adat dan kearifan hidup melalui petatah-petitih, pantang-larang, teromba, dan basiacuong (cakap-cakap adat). Bahkan, kegiatan yang menyatu dengan alam seperti tradisi mengambil madu lebah sialang (manumbai) senantiasa diiringi dengan syair-syair khusus.
Kekayaan sastra lisan ini merupakan bukti nyata tingginya kecerdasan linguistik para leluhur kita. Mempelajari dan menggali kembali karya sastra lisan ini sangat diperlukan oleh para peserta didik masa kini. Upaya pendokumentasian dan pembelajaran mahakarya lisan ini amat perlu diketengahkan agar marwah bahasa Melayu senantiasa lestari dan tidak lapuk ditelan kemajuan zaman.

0 Komentar
Tulis komentar Anda dengan bijak!