Tanjak Kreasi Melayu Riau

Tanjak adalah mahkota kehormatan bagi laki-laki Melayu yang menjadi simbol kepantasan dan kebanggaan. Mari saksikan keahlian melipat kain menjadi destar kreasi masa kini yang tetap memegang teguh nilai adat melalui tayangan berikut ini.


[ AREA PENYEMATAN VIDEO ]


Simbol Kepantasan dan Penjaga Marwah Laki-laki Melayu

Dalam khazanah busana kebudayaan Melayu, tanjak merupakan sejenis penutup kepala atau destar yang menempati kedudukan sangat istimewa. Busana ini tidak hanya digunakan sebagai pelengkap pakaian sehari-hari, melainkan juga menjadi syarat utama pada peristiwa-peristiwa kebesaran tertentu. Kehadiran tanjak sangat mutlak pada majelis perkawinan, kenduri sunat rasul, perayaan hari raya, dan perhelatan adat lainnya demi menjaga tegaknya marwah seorang laki-laki di tengah khalayak.

Secara filosofis, kedudukan dan tata cara pemakaian tanjak ini dijelaskan dengan begitu indah melalui ungkapan Melayu:


yang dipakai berpatut-patut,
yang beradat lembaga,
yang beradat berketurunan,
yang dijaga dan yang dipelihara,
yang bertempat dan bertempatan,
yang ada asal usulnya.                    

Ungkapan tersebut memberikan tunjuk ajar bahwa memakai destar amat perlu disesuaikan dengan tempat, situasi, dan kepantasan status pemakainya. Kekayaan makna ini juga sejalan dengan banyaknya nama dan bentuk ikatan tanjak yang memiliki asal-usul sejarahnya masing-masing. Beberapa jenis ikatan tanjak yang sangat masyhur antara lain Belah Mumbang, Tebing Laksemana, Tumbang Layar, Tebing Runtuh, Tanjak Laksemana, Tanah Terban, Gombak Raja, Daun Sehelai, hingga Dua Sejumbai.

Seiring dengan kemajuan zaman, keahlian para perajin telah melahirkan ragam pembuatan tanjak kreasi. Pembuatan karya-karya baru ini sangat diperlukan untuk menarik minat generasi muda agar semakin bangga mengenakan destar ke mana pun mereka melangkah. Pelestarian keahlian melipat dan membentuk tanjak ini perlu terus didukung penuh agar warisan identitas peradaban Melayu Riau senantiasa lestari.


Posting Komentar

0 Komentar