Kekayaan jenis tanaman obat tercatat dengan sangat rapi baik secara lisan melalui tradisi turun-temurun, maupun secara tertulis dalam naskah-naskah kuno seperti Kitab Tib (kitab pengobatan Melayu klasik). Setiap bagian dari ekosistem, mulai dari tumbuhan yang tumbuh di pekarangan rumah (seperti sirih, kunyit, kencur, dan serai wangi), tumbuhan di rawa dan sungai (selubung, jerangau), hingga pohon-pohon besar di dalam hutan perawan (seperti pasak bumi, pasak lingga, dan kayu secang), memiliki fungsi medis spesifik yang diandalkan untuk menyembuhkan penyakit.
1. Akar kancil
Akar kancil (Smilac zeylanica) merupakan tumbuhan merambat (liana) yang banyak tumbuh di hutan. Tumbuhan ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Suku Talang Mamak karena khasiatnya untuk berbagai macam, antara lain, obat kaum laki-laki, penyubur kandungan, dan ramuan paska melahirkan. Selain akar kancil, masyarakat Talang Mamak biasanya juga menambahkan beberapa ramuan tumbuhan lainya untuk menambah stamina laki-laki, antara lain paku kawat (Pronephriumasperum), rambutan pacat (Rinoreaanguifera), bambu kuning (Bambusa vulgaris), pasak bumi (Eurycoma longifolia), pakis batu (Bolbitisheteroclita), alang-alang (Imperata cylindrica), ribu-ribu jantan (Anisophylla), kayu dolik (Memecylonexcelsum), selasih (Ocimumgratissimum), bunga kuning (Celosiaargentea), bunga merah (Celosia argentea) (Setyowati dan Wardah, 2007). Seluruh bahan dari tumbuhan tersebut masing-masing diambil bagian akarnya dan kemudian direbus dan airnya diminum sehari sekali sebanyak satu gelas.
2. Bujang Tanalan
Sejenis rumput yang banyak tumbuh di halaman. Daunnya berwarna hijau menyerupai daun pohon mangga. Biasanya rumput ini sering dipakai untuk campuran membuat tangas, yaitu ramuan obat yang cara pengobatannya dengan diuapkan ke penderita. Untuk membuat tangas, bujang tanalan dicampur dengan limau purut, pandan wangi, selau pisang, serai wangi atau serai ekuk yang terdiri dari 1 sampai 5 bujang tanalan batang beserta akarnya, daun dan akar kunyit, menalu dan daun jambu merah. Ramuan ini digunakan menguapi orang yang sedang dalam penyembuhan dari suatu penyakit.
3. Dingkek
Sejenis akar yang tumbuh besar dan panjang, buahnya berpapan-papan seperti petai, biji buahnya sangat keras, dibuat untuk obat penyakit karo, caranya buah dingkek dipupahkan dengan ucapan “Oso duo tigo ompek limu onom tujuh, kolou karo molotuihlah, sakik botahlah!”, kemudian buah dingkek yang telah dipupah tersebut dibakar sampai hangus, asapnya didekatkan ke hidung, kemudian buah dingkek tersebut dimasukkan ke dalam gelas berisi air, dan diminum. Buah dingkek digunakan untuk permainan tradisional yang disebut dengan permainan dingkek (Pelalawan)
4. Gadong
Tumbuhan merambat jenis Dioscorea hispida dan Dioscorea triphylla. Buahnya biasa disebut sebagai ubi gadung. Tumbuhan ini mengandung narkotika, sehingga sering digunakan sebagai ramuan untuk membuat racun ikan tuba. Cara membuat racun tuba ini adalah dengan mencampurkan pucuk dan buah ubi gadung, ubi aro, urat akar tubo dan buah kecubung. Semua bahan tersebut dicincang dan digiling. Kemudian bahan-bahan yang sudah lumat tersebut dicampur dengan dedak dan dibulatkan kecil-kecil. Pemakaiannya dengan ditaburkan ke dalam sungai. Apabila racun ini termakan oleh ikan, maka ikan itu akan mabuk untuk jangka waktu tertentu, (Wilkinson, R.J., 1959 dan Taslim F., dan Junaidi Syam, 2007).
5. Gambir
Tumbuhan bernama latin Uncaria gambir, yang daunnya diolah menjadi ramuan untuk makan sirih, selain pinang dan kapur sirih. Tumbuhan ini termasuk ke dalam suku tumbuhan kopi-kopian. Batangnya berkayu tetapi biasanya tumbuh secara merambat pada batang pohon. Tinggi tanaman ini berkisar antara 1,5 hingga 2 meter. Batangnya berwarna kecokelat-cokelatan sampai cokelat tua. Bunganya berbentuk bundar menyerupai bola, kira-kira seukuran bola pingpong dan keluar dari pusatnya, tersusun seperti jari-jari. Buahnya kecil dengan banyak biji halus. Daunnya berbentuk oval membulat berwarna hijau muda hingga hijau coklat dan coklat muda, tersusun berhadap-hadapan. Adapun ciri tanaman gambir yang sudah dapat untuk dipetik atau dipanen adalah bila daunnya telah berwarna hijau tua, bila dipegang sudah agak keras dan kaku, dan jika diremas mengeluarkan getah, (Wilkinson, R.J., 1959; Barnard, T., 2003 dan 2006; Taslim F., dan Junaidi Syam, 2007; serta Marsden, William, 2008).
6. Kemenyan
Bahan perasapan dalam ritual pengobatan, upacara adat atau kenduri dalam masyarakat Melayu. Nama latinnya Boswellia sacra, merupakan sejenis damar yang berasal dari getah sejenis pohon yang tumbuh di hutan tropis. Kemenyan berbentuk keras seperti batu. Bomoh dan dukun Melayu menggunakan asap kemenyan sebagai ganti angin.
Penggunaan kemenyan dipercayai bermula dari negara Arab. Pedagang-pedagang Arab yang datang menyebarkan agama Islam ke Asia Tenggara menggunakan keme¬nyan sebagai bahan pewangi, sedangkan asapnya digunakan untuk tujuan pengobatan batin, (Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu, 1999).
7. Kacip Fatimah
Nama latinnya, Labisia pothoina, pohon semak yang mempunyai bunga berwarna merah muda. Biasanya digunakan sebagai selusuh untuk memudahkan persalinan dan obat selepas bersalin. Kacip Fatimah dapat ditemukan di Malaysia maupun hutan belantara Indo-China. Di kalangan orang Melayu, Kacip Fatimah dikenal dengan berbagai nama, yaitu Akar Siti Fatimah, Kunci Fatimah, Rumput Palis, Tadah Matahari, Mata Pelanduk Rimba dan Bunga Belangkas Hutan. Nama “Fatimah” pada tumbuhan ini adalah mengambil nama puteri Nabi Muhammad saw. yang bernama Siti Fatimah, yang melambangkan keelokan. Tanaman ini juga banyak digunakan di kalangan Orang Asli, dan dikenal sebagai Mian Batu. (Wilkinson, R.J., 1959; Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu, 1999; Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993; Taslim F., dan Junaidi Syam, 2007).
8. Kemungkus, Kemukus
Tumbuhan yang buahnya dijadikan rempah-rempah, Piper cubeba. Digunakan dalam pengobatan Melayu sebagai obat disentri dan gonorhoea, dll. juga disebut lada berekor, (Wilkinson, R.J., 1959; Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993).
9. Kemunting, Keremunting
Tumbuhan perdu Rhodomyrtus tomentosa. Daunnya kasar dan agak berbulu, berbentuk lonjong. Bunganya putih kemerahan. Buahnya berwarna hijau waktu masih muda dan menjadi merah keunguan setelah tua, rasanya manis kelat dan berbiji seperti jambu biji. Daunnya yang kelat dapat ramuan obat sakit perut, (Wilkinson, R.J., 1959; Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993).
10. Ketumbar
Sejenis tumbuhan yang bijinya dijadikan rempah bumbu dan obat, Coriandrum sativum. Biji ketumbar mengandung minyak asiri, asam askorbat, asam kafeat, asam klorogenat, asam vanilat, sitronelol, geranial, rutin, tannin, nerol, dan niasin. Jenis-jenisnya antara lain ketumbar hutan gambir badak (maesa rametacea), ketumbar hutan lidah ular (sida acuta), dan ketumbar jawa atau jeruju gunung eryngium foetidum, (Wilkinson, R.J., 1959; Thomas A.N.S., 1992; Kamus Dewan, 1998; Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia –Sumatera–, 2004).
11. Mengkudu
Sejenis pohon dari keluarga Rubinceae yang tumbuh di kawasan tropis. Terdapat tiga jenis mengkudu yaitu mengkudu besar atau mengkudu jantan (M. citrifolia), mengkudu kecil atau mengkudu hutan (M. elliptica) dan mengkudu akar (M. uinbellata).
Akar mengkudu dapat dipakai sebagai pewarna batik karena dapat menghasilkan warna merah, ungu dan coklat. Buah mengkudu juga digunakan sebagai obat minum ataupun obat oles. Untuk dijadikan obat minum mengkudu harus direbus dulu dan perlu dicampur dengan ramuan-ramuan lain seperti daun setawar ular, cempaka gading, umbi pandan dan batang padi. Campuran yang diperlukan bergantung pada jenis penyakit yang hendak diobati. Buah mengkudu yang banyak dijadikan obat terutama adalah mengkudu jantan, yaitu untuk mengobati penyakit sistem uriono-genital dan penyakit kencing manis, penyakit hati, beri¬-beri dan batuk. Sedangkan untuk obat oles, buah mengkudu ditumbuk dan dioleskan di bagian yang sakit atau dilayur dan ditempelkan di bagian yang sakit. Daunnya juga dapat dimanfaatkan sebagai Obat oles untuk penyakit batuk, bengkak limpa, demam dan pening. Sementara akarnya dapat dijadikan obat dengan dicincang dan dicampur dengan buah mengkudu masak untuk mengobati penyakit senggugut bangkai, (Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu, 1999).
12. Penaga
Penaga adalah nama umum untuk berbagai jenis pohon hutan hujan tropika dan tumbuhan pesisir yang tumbuh subur di wilayah Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Indonesia. Tumbuhan ini terkenal karena kayunya yang kuat, bunganya yang harum, dan bijinya yang menghasilkan minyak tradisional.
Sejenis pohon (calophyllum inophyllum). Pohon ini dapat dimanfaatkan akar, kulit, dan daunnya sebagai obat sawan tikus dan sawan babi. Jenis-jenisnya antara lain penaga hitam (cratoxylum aborescens), penaga laut (calophyllum inophylloide), dan naga sari (messua ferrea), (Wilkinson, R.J., 1959 dan Kamus Dewan, 1998).
Dalam khazanah pengobatan tradisional Melayu, penaga umumnya merujuk pada pohon Penaga Laut (Calophyllum inophyllum) atau Penaga Hutan (Mesua spp). Berbagai bagian dari pohon ini—mulai dari kulit kayu, daun, hingga minyak bijinya—telah lama dimanfaatkan secara turun-temurun.
Berikut adalah rincian spesifik pemanfaatan dan khasiat tanaman penaga dalam tradisi Melayu:
- Obat Kulit & Peradangan: Minyak yang diekstrak dari biji penaga laut (biasa dikenal sebagai Tamanu oil) digunakan untuk mengobati luka, eksim, bisul, hingga gigitan serangga.
- Mengatasi Infeksi & Parasit: Masyarakat pengobat tradisional (dukun/tabib) sering menggunakan rebusan akar, daun, atau kulit kayu untuk mengobati penyakit demam hingga penawar racun.
- Obat Sawan: Dalam beberapa literatur pengobatan Melayu kuno (seperti naskah Mujarabat Melayu), tanaman dari kerabat penaga sering diracik untuk mengatasi penyakit seperti sawan babi (epilepsi).
Untuk kulit bernanah/gatal, getah batang penaga yang berwarna kuning biasanya dibakar sebentar, dicampur dengan sedikit minyak kelapa, lalu dioleskan pada kulit yang bermasalah. Untuk radang/bengkak luar, daun penaga ditumbuk halus (dilumatkan) dan ditempelkan pada area tubuh yang bengkak atau nyeri.
0 Komentar
Tulis komentar Anda dengan bijak!